Bagaimana Caranya Menjadi Manusia Baru yang Tangguh Dalam Mengatasi Pandemi dan Resesi Ekonomi?

Saudaraku Seiman dan setanah air, sudah lewat Tujuh Purnama, kita hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran. Betapa Tidak! Eskalasi Pandemi yang terus bertambah setiap hari tentu saja membuat kita was-was. Pasalnya, ancaman virus corona yang semula dari persoalan biologis (baca: kesehatan) telah  menjadi persoalan ekonomis, dan telah bertransformasi menjadi persoalan politis. Dan semua itu, merupakan hal yang merisaukan kita semua.

Di masa Pandemi yang sekarang sedang terjadi, banyak sekali tantangan yang kita hadapi. Mulai dari segi ekonomi, politik sosial, dan Kesehatan. Himbauan dari pemerintah untuk melakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar mewajibkan kita untuk mematuhi protokol Kesehatan serta membatasi seluruh kegiatan mulai dari akademik di sekolah, kantor-kantor tempat orang bekerja, mall dan fasilitas umum lainnya hingga keagamaan di tempat ibadah.

Sekarang, hampir semua kegiatan kerohanian dilaksanakan secara online atau daring. Pemanfaatan teknologi ini tentunya bersifat positif karena dapat mempertemukan dan mempersatukan kita meski secara virtual atau online dalam dunia maya.

Maka, marilah perjumpaan kita kali ini, kita manfaatkan untuk mendiskusikan, "Bagaimana Bagaimana Caranya Menjadi Manusia Baru yang Tangguh Dalam Menghadapi Pandemi dan Resesi Ekonomi?"

Silakan Anda simak dan cermati uraian selanjutnya agar nanti dapat kita diskusikan bersama. Semoga Allah Melindungi, Memberi Petunjuk serta Memberi  Kemudahan dan Kesehatan di tengah Eskalasi Pandemi dan Ancaman Resesi ini. Semoga kita semua bisa keluar dari Kemelut Kehidupan dan Ekonomi dengan selamat dan sukses. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin!

Energi Iman Yang Luar Biasa Menangkal Pandemi Covid-19

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr : 1-3).

Dalam Firman-Nya tersebut di atas, Allah menerangkan sejatinya tiap insan berada dalam kondisi serbarugi. Ia rugi baik dalam perdagangan, pekerjaan, maupun amal di dunia.

Karena itulah, bagi seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu “Beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar”

Iman kepada Allah adalah kekuatan yang menyelamatkan hidup.  Ini bukan perasaan.  Tidak! Itu adalah keyakinan pada Kuasa Allah untuk menyelamatkan kita sepenuhnya dari ancaman pandemi Covid-19 dan jepitan Resesi Ekonomi ini. Karena itulah Topik iman dan imun menjadi pembahasan hangat penduduk bumi selama delapan bulan terakhir ini.

Ketika kita menggenggam iman dengan Istiqamah, kita mengalami kekuatan luar biasa yang dimilikinya untuk mengubah hidup kita sepenuhnya.  Tapi bagaimana caranya?  Apa manfaat sebenarnya dari hidup beriman kepada Allah?

Ketika iman dipahami dan digunakan dengan benar, itu memiliki dampak yang luar biasa dan sangat luas. Keyakinan semacam itu dapat mengubah kehidupan individu dari kerugian, aktivitas sehari-hari yang umum menjadi simfoni kegembiraan dan kebahagiaan. Karena itulah meningkatkan Kekuatan Iman  sangat penting bagi kita di tengah Jepitan Pandemi dan Ancaman Resesi saat ini. Pasalnya, setiap detik diuji untuk mempertahankan Keimanan agar tidak stres dan putus asa.

Iman bukanlah kata benda yang statis, tetapi iman adalah energi spiritual atau energy Ilahiyah yang mampu mengendalikan nafsu dan mengarahkan ego seseorang untuk mengerti, memilih dan menjalani kebenaran.

Karena itulah, Iman dalam kapasitasnya sebagai  Energy Ilahiyah  sangat berperan  untuk meningkatkan kecerdasan intelektual dan menemukan karakteristik serta sifat tersembunyi yang dapat mengubah kehidupan kita di tengah Kemelut Ekonomi ini.

Iman di masa pandemi ini adalah bagaikan Pelita di tengah kegelapan. Karena itulah harus kita sadari hanya dengan Cahaya Iman kita bisa keluar dari Krisis Kesehatan dan Ancaman Resesi Ekonomi yang entah kapan berakhirnya ini.

Dengan demikian sebagai orang beriman kita harus menyadari bahwa ketika pandemi dan resesi datang, pada dasarnya Allah sedang menghadapkan kita pada suatu tantangan yang sesungguhnya dimaksudkan sebagai datangnya peluang pertumbuhan.

Yakinlah dalam Cahaya Iman, kita akan menemukan cara untuk mengatasinya dengan cara yang produktif. Energi  Iman akan mencerdaskan pikirannya, Menenangkan Jiwa/Nafsunya, Menentramkan Hati dan Kekuatan Iman akan membuatnyaTangkas dalam Bergerak.

Sehingga Kekuatan Iman menjadikan kita Manusia Baru yang Tangguh dalam Mengatasi Ancaman Pandemi Covid-19 dan Resesi Ekonomi.

Pentingnya iman sebagai landasan pengembangan sumber manusia yang tangguh dan peradabannya yang maju, ditegaskan Allah dalam Q.S. Al-A’raf/7: 96:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Kata ‘barakah’ dalam ayat di atas bermakna kebajikan yang berlimpah. Puncak kebajikan yang berlimpah adalah sumber daya manusia yang tangguh dan peradaban yang unggul.

Discover Your Fullest Potential – Starting Now

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11).

Sesungguhnya Allah SWT memiliki sunnah (jalan atau cara) terkait perubahan yang harus dipahami oleh setiap Muslim, setiap organisasi yang menggemakan kebangkitan umat, dan setiap kelompok yang berjuang untuk mengubah keadaan yang mencemaskan dan perekonomian yang terpuruk, sebagaimana yang dialami oleh kaum Muslim dan menyelimuti kehidupan umat Islam, bahkan seluruh dunia, akibat adanya Pandemi Covid-19 dan Resesi Ekonomi ini.

Dalam Firman-Nya di atas Allah menegaskan, apa pun kondisi yang kita hadapi saat ini, jika kita mau berubah, maka kita harus mengubah diri sendiri. Karena itulah, kita harus menggali potensi diri agar menemukan Potensi Maksimal kita - Mulai Sekarang (Discover Your Fullest Potential – Starting Now).

Kita harus memanfaatkan Social Distancing ini untuk istirahat sejenak. Mari kita tingkatkan kualitas Stay at Home menjadi I'tikaf. Sehingga di saat menyendiri dalam sepi itu kita bisa fokus pada diri kita sendiri. 

Untuk menyadari potensi kita sendiri kita perlu merenung, tafakkur.  Tundukkan kepala, tepuk dada, tanyalah diri sendiri, "Dari Mana Kita, sedang di mana, mau apa dan akan kemana?"

Disadari atau tidak, sesungguhnya hal ini adalah kerinduan terdalam setiap orang untuk menemukan mengapa mereka ada di planet ini.  Ini adalah pertanyaan yang bahkan ditanyakan oleh orang paling sukses pada diri mereka sendiri - Apa tujuan saya? 

Perjalanan menemukan potensi Anda sepenuhnya dan mewujudkan tujuan Anda adalah proses seumur hidup.  Semakin banyak tindakan yang Anda ambil, semakin banyak langkah-langkah keyakinan yang Anda ambil, semakin Anda akan memberi wewenang pada diri Anda sendiri untuk menemukan potensi sejati Anda.

Untuk itu dalam Zikir dan Do'a Mohonlah petunjuk Allah agar Dia membimbing kita untuk menemukan Potensi Diri kita yang sudah dianugerahkan-Nya pada kita sejak kita masih dalam kandungan Ibunda kita.

Potensi terbesar yang diberikan Allah adalah Potensi Rabbaniyah. Potensi Rabbaniyah adalah sebuah potensi sifat-sifat ketuhanan sebagaimana sifat Allah dalam Asmaul Husna, seperti Mahaperkasa, Mahabijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pencipta, Maha Penyayang yang diberikan ke dalam diri manusia. Namun bedanya, jika Allah itu Maha Pengasih, maka manusia diberi-Nya sifat Pengasih.

Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, bahwa manusia diciptakan oleh Allah meliputi unsur jasmaniah dan rohaniah, maka Allah memberikan potensi sifat-sifat ketuhanan tersebut ke dalam roh manusia agar setiap tingkah laku manusia mencerminkan (ngejawantahi) kepribadian Allah di dalam dirinya.

Potensi Rabbaniyah tersebut harus diasah terus-menerus dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah swt. Keimanan dan ketakwaan dengan sebenar-benarnya akan melahirkan amal saleh yang mampu memberikan kemakmuran bagi bumi dan segala isinya.

Be Creative like your Creator

Ekspresi pertama tentang Allah yang diperkenalkan pada kita di dalam Al-Qur'an adalah sebagai pencipta – creator, sekaligus inovator"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Menciptakan.'' (QS Al-'Alaq : 1).

Dari posisinya sebagai wahyu pertama serta dari cara Jibril menyampaikan kepada Rasulullah SAW, ayat ini memiliki kedudukan istimewa. Ia berisi pesan-pesan fundamental yang diberikan kepada Rasulullah SAW secara khusus dan umatnya secara umum.

Di antaranya, pesan untuk 'membaca'. Pesan ini sangat penting agar manusia memfungsikan sejumlah perangkat indrawi yang Allah SWT anugerahkan, seperti penglihatan, pendengaran, hati, dan akalnya secara optimal. Itulah perangkat utama untuk membaca tulisan yang terdapat dalam kitab ataupun di jagad raya. Dari sini, manusia menjadi cerdas, berpengetahuan, dan berwawasan luas.

Hanya saja, proses membaca itu harus disertai spirit mulia. Sebab, banyak orang cerdas sesudah membaca, tidak memberikan manfaat apa-apa. Bahkan, tidak jarang pengetahuan dan kecerdasan yang dimilikinya digunakan untuk menipu, menjerat, memperdaya, memanipulasi, dan mendatangkan bahaya.

Karena itu, Allah SWT menyatakan, ''Bacalah dengan nama Rabb-mu!'' Artinya, tidak boleh hanya sekadar membaca. Tapi, proses membaca tadi harus dilakukan karena Allah SWT, untuk dan atas Nama-Nya. Inilah pesan selanjutnya yang bisa diambil dari ayat di atas.

Ini pula yang seharusnya menjiwai proses penelaahan, penalaran, pengamatan, dan pembelajaran oleh seorang Muslim. Dirinya harus selalu terkait dengan Allah Sang Pencipta (Creator).

Kreatif (creative) berasal dari kata create yang berarti menciptakan sesuatu. Menariknya, penciptaan merupakan hal pertama yang diceritakan di Al-Qur'an. Proses penciptaan menjadi awal yang sangat penting bagi rencana Allah di dunia. Kreativitas bersumber dari Allah, Pencipta yang pertama dan utama. Dan, kita semua merupakan buah kreativitas-Nya.

Allah adalah sumber kreativitas yang sejati. Tak hanya menciptakan dunia, Dia juga  berinovasi, mengembangkan dan memelihara segala sesuatunya dengan luar biasa. Sebagai contoh, lihatlah jumlah suku bangsa manusia, serta spesies hewan dan tumbuhan. Berdasarkan penelitian para ahli, bumi memiliki sekitar 8,7 juta spesies, dan sebagian besarnya (kurang lebih 86%) belum teridentifikasi. Dibutuhkan waktu lebih dari seribu tahun untuk mendata seluruh spesies makhluk hidup dengan metode tradisional!

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 3-5)

Dunia memerlukan Kita untuk senantiasa kreatif. Dan, untuk menjadi kreatif, kita membutuhkan Allah, sumber kreativitas sejati. Apa pun kemampuan kita, semuanya milik Allah dan berasal dari-Nya. Maka, kita dapat memahami bahwa Allah adalah dasar dan sumber dari kreativitas manusia.

Menurut Guru Mursyid kita, Allahyarham Syaikh Inyiak Cubadak, kita dapat mendekati-Nya secara rohani, yaitu menghiasi diri sebanyak mungkin dengan "sifat-sifat" Allah, seperti sifat bijak-bestari (hikmah), sifat ilmu, sifat penyantun, dan kasih sayang. Karena itulah,setiap kita tentu berbeda-beda kedekatannya dengan Allah, bergantung dan setingkat dengan upaya yang kita lakukan.

Allah akan menyambut hamba-Nya yang dengan tulus dan ikhlas hendak kembali ke jalan-Nya. Dalam sebuah hadits Qudsi yang sangat populer di kalangan kaum sufi, Allah SWT berfirman, "Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka aku telah datang menghampirinya sehasta. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang menyambutnya dengan berlari. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berlari, maka aku datang menyongsongnya lebih cepat lagi."

Selanjutnya ditegaskan-Nya, “Adapun jika hamba-Ku melaksanakan yang sunah, niscaya Aku akan mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakan untuk memukul, dan kakinya yang digunakan untuk berjalan.” 

Tak sampai di situ, "Jika dia meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi." (HR. Bukhari).

Maka, Segeralah mendekati Sumber Kreativitas dan muliakanlah Dia dengan kreativitas yang dianugerahkan-Nya!

Jadi, Manusia Baru yang Tangguh Dalam Menghadapi Pandemi dan Resesi Ekonomi itu adalah Manusia Indonesia yang Beriman dan Mampu Menggali Potensi Diri secara Berkelanjutan serta Menjadi Kreatif dan inovatif dalam Segala Kegiatan dan Usaha serta Bisnisnya.

Semoga Allah senantiasa berkenan Memberi Petunjuk, Kemudahan dan Kelancaran serta Bimbingan kepada kita semua agar bisa mengatasi wabah coronavirus dan keluar dari Resesi Ekonomi ini dengan Selamat dan Sukses. Allah Bless You and Good Luck! (az).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama